Karya Pelukis Di Lantai Kayu
Karya seni bukan hanya ditampilkan di media kanvas tapi bisa juga diaplikasikan di lantai kayu.
Para pelukis yang telah menorehkan sejarah senirupa Indonesia memamerkan karyanya di Teka Real Wood Flooring Gallery yang berlokasi di Jalan Jalur Sutera, Alam Sutera, Tangerang Selatan, Banten. Ada 10 pelukis modern dan kontemporer yaitu Syakieb Sungkar, Amrus Natalsya, KP Hardi Danuwijoyo, Nisan Kristiyanto, Erman Sadin, Sarnadi Adam, Indyra, Sukriyal Sadin, Chryshnanda Dwilaksana dan Revoluta S.
Pameran lukisan bertajuk Art Kembang Kayu ini merupakan kolaborasi senilukis dengan interior cantik lantai kayu dari salah satu brand lantai kayu di Indonesia yaitu Teka yang merupakan hasil produksi PT Tanjung Kreasi Parquet Industry (TKPI), anak perusahaan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSN Group).
Kurator Art Kembang Kayu Anna Sungkar mengatakan, pameran lukisan ini bisa dibilang sebagai pertemuan dua generasi karena sebagian besar dari 10 pelukis yang memamerkan karyanya itu lahir pada tahun 1950-an, seperti KP Hardi Danuwijoyo (1951), Nisan Kristiyanto (1953), Erman Sadin (1953), Sarnadi Adam (1956), Indyra (1957), dan yang paling senior dalam pameran ini adalah Amrus Natalsya yang lahir pada tahun 1933. Sementara sisanya lahir pada tahun 1960-an, yakni Sukriyal Sadin (1961), Syakieb Sungkar (1962), Chryshnanda Dwilaksana (1967), dan yang termuda adalah Revoluta S (1975).
“Itulah yang menyebabkan pameran ini seperti pertemuan antara dua generasi, pelukis zaman modern art dengan pelukis pada zaman kontemporer. Di masa lalu, senirupa modern dan kontemporer jelas benar bedanya baik dari segi gaya dan ide, tapi saat ini kita tidak bisa lagi melihat perbedaan signifikan diantara keduanya,” ujar Anna.
Dalam rangkaian kanvas pelukis senior Indonesia tahun 1970-an, bentuk-bentuk yang tampil cenderung abstrak atau semi abstrak yang kelihatan dominan. Anna menyebut kecenderungan ini sebagai lirisisme yang tumbuh subur seiring dengan berkembangnya pembangunan properti di perkotaan sehingga lukisan-lukisan dibutuhkan sebagai penghias dekorasi dari properti yang baru terbangun.

“Karya-karya para seniman yang dipamerkan ini sebagian besar dan secara kebetulan mengarahkan pemilihan karyanya yang berbau lirisisme. Tentu saja ada banyak karya-karya di luar lirisisme yang cocok juga untuk dipadankan menjadi bagian elemen interior dan semuanya sangat bergantung dari situasi dan preferensi para arsitek dan pemilik rumah,” katanya.
Keberagaman pilihan juga diperhatikan dalam pameran ini juga disesuaikan dengan luasnya selera masyarakat yang kian maju daya apresiasi seninya. Seluruh karya yang dipamerkan juga memerhatikan keunikan dari pemukaan kayu yang terdapat pada material parket dan dinding kayu olahan di galeri Teka Alam Sutera.
Direktur TKPI Muhammad Hamdani mengatakan, pameran Art Kembang Kayu yang melibatkan 10 seniman ini merupakan langkah awal Teka dalam mengapresiasi ide kreatif para seniman sekaligus sebagai bentuk kolaborasi interior lantai kayu dengan para seniman Indonesia.
“Bagi kami lantai kayu bukan hanya sebuah produk melainkan sebuah karya dari keberagaman dan keunikan dari setiap pohon untuk menciptakan keindahan dari suatu ruangan. Melalui pameran ini para seniman bisa memamerkan karya sekaligus ruang bagi Teka untuk memperkenalkan produk lantai kayunya dengan lebih luas,” katanya.

